WISATA

Aksesibilitas Masih Menjadi Kendala Pengembangan Pariwisata

MALIOBORO – Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia masih kalah jauh dengan kunjungan ke Malaysia ataupun Thailand. Padahal dari sisi destinasi, Indonesia cukup beragam dan sebenarnya lebih menarik ketimbang dua negara tersebut. Sehingga perlu percepatan dan kerjasama berbagai pihak untuk mendongkrak wisatawan mancanegara.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan 10 Destinasi Prioritas, Hiramsyah S Thaib mengatakan, hal utama yang menghambat pertumbuhan industri pariwisata di tanah air adalah aksesibilitas, terutama aksesibilitas udara. Di mana kondisi bandara-bandara di Indonesia belum memungkinkan untuk melayani penerbangan internasional.

Di DI Yogyakarta, seperti diketahui Bandara Adisutjipto sudah beroperasi dengan jumlah penumpang yang jauh melebihi kapasitas bandara itu sendiri. Oleh karena itu, betapa pentingnya bandara Kulon Progo mendesak untuk diwujudkan. Sebab, bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang dibangun dengan kapasitas lebih besar akan membuka sumbatan aksesibilitas wisatawan mancanegara.

“NYIA akan memungkinkan wisatawan mancanegara yang datang ke Borobudur dalam hal ini Joglosemar (Jogja, Solo dan Semarang) lebih banyak lagi,”ujarnya.

Pembangunan bandara ini menjadi hal yang sangat strategis dan dimonitor secara ketat oleh Kementrian Koordinator Kemaritiman serta ditargetkan akan beroperasi tahun 2019. Dengan beroperasinya bandara baru ini diharapkan mampu menambah jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang ke Borobudur dalam hal ini Joglosemar.

Menurutnya, ketika berbicara Joglosemar, maka berbicara 4 KSPN termasuk ke Karimunjawa. Di mana potensi ke empat KSPN tersebut sangat luar biasa besarnya karena menyangkut aksesibilitas 3 bandara yaitu Jogja, Solo dan Semarang. Tambahan potensi lagi sekarang ada di Semarang dengan ditetapkannya sebagai cruisse port yang memungkinkan wisatawan bahari masuk ke ketiga destinasi ini.

“Salah satu kekuatan pariwisata tersebut adalah wisata bahari. Dan baru digarap sungguh-sungguh belum lama ini,”tambahnya.

Sementara modal pariwisata yang lain adalah Amenitas, di mana peran sektor swasta sangat diharapkan. Ketika pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah secara maksimal membangun infrastuktur dan promosi, maka diharapkan sektor swasta tertarik untuk menanamkan investasi.

Hal ini sejalan dengan upaya mendongkrak potensi makro ekonomi Indonesia. Di mana Indonesia membutuhkan devisa untuk mendongkrak pemasukan. Ke depan diharapkan pariwisata menjadi penyumbang terbesar devisa seperti negara-negara lain yang menggantungkan pemasukan dari sektor pariwisata. Seperti negara tetangga di mana kondisinya sangat stabil yaitu neraca pembayarannya tidak pernah negatif karena kontribusi sektor pariwisata ini. (fan)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top