BI

BI Perkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2018 sebesar 10% hingga 12%

Foto Perwakilan Kantor Bank Indonesia Wilayah DIY Oleh Ruudd Keerr Photography

MALIOBORO – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2018 sebesar 10% hingga 12%. Di samping itu, perhitungan relaksasi simpanan perbankan juga akan menambah likuiditas industri ini.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo dalam siaran persnya menyatakan, Bank Sentral dalam Rapat Dewan Gubernur BI periode Januari 2018 memutuskan untuk meningkatkan porsi penghitungan rata-rata menjadi 2% dari 1,5% untuk GWM-P averaging denominasi rupiah di bank umum.

“Porsi perhitungan GWM-P averaging rupiah di bank umum menjadi 2% dari total GWM-P yang sebesar 6,5% dan berlaku pada 16 Juli 2018,”terangnya.

Ia menjelaskan, Rasio GWM-primer merupakan simpanan minimum bank dalam rupiah atau valas di giro BI. Dengan kebijakan ini maka akan terjadi relaksasi perhitungan besaran simpanan rata-rata.

Menurutnya, relaksasi perhitungan besaran rata-rata untuk simpanan kas bank umum dan bank syariah yang disimpan di bank sentral (giro wajib minimum-primer rata-rata/GWM-P averaging) dapat menambah likuiditas industri perbankan sebesar Rp20 triliun.

“Ada peluang sekitar Rp20 triliun dari rasio GWM terhadap rupiah, valas, maupun syariah karena periode perhitungan rata-rata per dua pekan,”paparnya.

Melalui konsep GWM-P averaging, BI menghitung dana milik bank yang diwajibkan untuk disimpan di giro BI secara rata-rata per periode. Porsi yang dihitung rata-rata sebesar 2% dari total GWM-P averaging 6,5%.

Dengan demikian, lanjutnya, perbankan punya room untuk mendapatkan pengelolaan yang cukup baik. Ini juga membantu memberi sinyal kepada intermediasi perbankan agar lebih baik.

Selain itu, kata Dody, perbankan dapat menyimpan kelebihan likuiditas hasil re-laksasi tersebut dalam surat utang sehingga turut memperdalam pasar keuangan.

Dengan adanya tambahan likuiditas itu, perbankan dihatapkam dapat meringankan biaya dana dan menambah akselerasi penyaluran kredit. Sehingga pertumbuhan kinerja perbankan dapat terjadi seperti yang diharapkan.

“Tahun ini BI berharap banyak fungsi intermediasi perbankan meningkat drastis karena risiko kredit bermasalah yang mulai menurun dan perbaikan ekonomi makro,” harapnya. (Erfanto Linangkung)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top