EKONOMI

Dagang Sebagai Prinsip Syariah Pada Perbankan Syariah

Foto Ahmad Ifham Solihin pada acara Sosialisasi Bank Syariah ASBISINDO DIY Oleh Ruudd Keerr Photography

MALIOBORO – OJK dan BI sebagai lembaga pengatur jasa layanan keuangan di Indonesia telah mengatur prinsip – prinsip syariah pada layanan perbankan syariah. Hal itu diutarakan oleh Ahmad Ifham Sholihin selaku praktisi dan konsultan bank syariah pada acara Sosialisasi Bank Syariah yang diselenggarakan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Masjid Miftakhul Jannah, Sleman (27/1).

Ahmad Ifham Solihin mengatakan ada 116 fatwa yang mengatur transaksi syariah yang berprinsip dagang dan terbagi menjadi transaksi jual beli dan transaksi kongsi. Jadi kalau orang ingin bertransaksi syariah secara halal dan hasilnya juga halal harus melalui 2 transaksi tersebut. Dimana kongsi juga ujung – ujungnya harus ada jual belinya, karena profit yang halal itu hasilnya dari jual beli.

Jenis jual beli juga ada 2, yaitu jual beli barang sama jual beli manfaah. Jual beli manfaah juga ada 2, yaitu jual beli manfaah barang dan jual beli manfaah akmal. Jual beli manfaah barang itu merupakan sewa – menyewa barang, seperti sewa motor, sewa mobil, sewa gedung dan sewa rumah. Sedangkan manfaah akmal itu disebut dengan pengunaan jasa.

“Profit masuk akal hadir hanya dan hanya jika melalui jual beli, tidak bisa tidak.” ujarnya.

Ifham Solihin juga mengungkapkan regulasi BI, OJK, Ikatan Akuntasi Indonesia, dan Regulasi Internal – Eksternal Bank Syariah, telah mengikuti kaedah syariah. Jadi bank syariah yang ingin mendapatkan profit harus mengikuti prosedur dagang tersebut. Karena BI dan OJK mewajibkan bank syariah untuk dagang.

Buktinya BI mewajibkan dagang itu ada tertera di undang – undang, POJK, dan PBI yang telah ada. Contoh aplikasinya yaitu KPR Syariah itu salah satu akadnya adalah jual beli, dimana murobahah itu jual – beli untung.

Solihin juga mengutarakan bila masyarakat menabung di bank syariah itu istilahnya ada 2 akad. Akad yang pertama itu pinjaman, jadi masyarakat memberikan pinjaman ke bank syariah. Akad yang kedua itu permodalan dimana masyarakat memberikan modal ke bank syariah.

Jadi masyarakat seharusnya bangga ketika menabung di bank syariah karena masyarakat itu yang memberikan pinjaman atau modal ke bank syariah tersebut.

“Jika bank syariah tidak melakukan prinsip dagang, maka akan dapat ditutup.” tegasnya. (Rusdi K)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top