EKONOMI

Kemenperin Dorong Penerapan SNI Perhiasan Emas

MALIOBORO.NEWS – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong agar industri perhiasan dapat menerapkan SNI terhadap produk-produknya. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan mutu industri perhiasan serta meningkatkan daya saing.

Dalam melindungi konsumen dalam negeri serta memberi acuan standar bagi produsen dan laboratorium mengenai persyaratan mutu dan metode uji, Kemenperin melakukan perumusan terhadap SNI 8880-2020 Barang-barang Emas secara sukarela.

Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih menjelaskan pada SNI 8880-2020, terdapat informasi standar kadar pada produk perhiasan. Di dalamnya terdapat penjelasan kepada konsumen mengenai kesesuaian mutu produk perhiasan yang diperjualbelikan.

Barang-barang emas tersebut perlu diberikan penandaan dengan mencantumkan kadar persen atau karat, identitas produsen serta berat emas pada produk atau berat emas dapat dicantumkan pada kuitansi.

Menurut Gati, tantangan saat ini yang dihadapi pelaku industri emas dan perhiasan adalah jumlah dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang memahami tentang emas dan perhiasan.

Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan SDM dibidang perhiasan tersebut.

Upaya yang dilakukan antara lain melalui fasilitasi bimbingan teknis dan perumusan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di bidang perhiasan logam mulia, yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 19 Tahun 2019.

SKK Jewels ini merupakan perusahaan pertama yang menerapkan SNI 8880-2020 Barang-barang Emas. Saat ini, SKK Jewels memiliki kapasitas produksi mencapai 80 kg per bulan dan menyerap 280 tenaga kerja yang sebagian besar lulusan SMK jurusan kriya perhiasan/kriya logam/teknik fabrikasi. Di sela kegiatan kunjungan, Dirjen IKMA Gati Wibawaningsih mengatakan bahwa kinerja ekspor industri perhiasan emas di Tanah Air pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 0,49 miliar dolar dibanding tahun 2019 yang mencapai 1,47 miliar dolar, akibat akibat pandemi COVID-19.

Namun demikian, nilai ekspor emas dan granula mengalami kenaikan sebesar 56 persen, dari tahun 2019 yang mencapai 3,55 miliar dolar menjadi 5,54 miliar dolar pada tahun 2020.

Selain itu pangsa pasar industri perhiasan Indonesia pada 2019 baru mencapai 1,56 persen. Hal ini bisa menjadi peluang bagi industri perhiasan Indonesia untuk terus tumbuh.

“Pertumbuhan tersebut sejalan dengan perbaikan iklim usaha dan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah, salah satunya yaitu dengan memperbaiki rantai pasok industri perhiasan, seperti mempermudah akses bahan baku dan memperbaiki ekosistem bisnisnya,” ujar Gati.(rn)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top