SOSIAL BUDAYA

Sumbu Filosofi Itu Akan Dihidupkan Kembali

Sumbu filosofi

MALIOBORO.NEWS – Pemerintah DIY tengah mengkaji akan melakukan revitalisasi Plengkung Gading hingga Panggung Krapayak usai melakukan revitalisasi kawasan Malioboro. Revitalisasi tersebut sebagai bagian menghidupkan kembali sumbu filosofis DIY sebagai warisan dunia.

Rencana penghidupan kembali sumbu filosofis DIY tersebut juga akan dibarengi dengan penambahan berbagai fasilitas tehnologi. Diharapkan dengan kehadiran tehnologi ini nanti sumbu filosofi tidak sekedar hanya simbol budaya melainkan simbol dari kemajuan masyarakat DIY pada umumnya.

Seperti diketahui, berdasarkan sejarah yang berkembang serta simbol budaya yang ada dan masih eksis sampai saat ini, kawasan Tugu hingga Malioboro adalah bagian dari sumbu filosofi. Selain itu juga sesuai dengan pernyataan filosofis dari Sultan Agung tentang konsep ‘Sangkan Paraning Dumadi’. Sangkan ini dimulai dari Krapyak dan Paraning Dumadi itu ada di Tugu hingga Keraton.

Ketua Dewan Riset DIY, Bayudono mengungkapkan, di kawasan sumbu filosofis mulai dari Tugu ke selatan hingga kawasan Panggung Krapyak akan menjadi pilot project Jogja Smart Province. Di kawasan sumbu filosofis tersebut nantinya masyarakat dapat dengan mudah mengakses internet.

“Nanti masyarakat bisa mengakses internet untuk berbagai kebutuhan. Seperti tiket ataupun informasi lainnya,”tuturnya. Rencananya, pihaknya akan memperbanyak jumlah Wifi gratis agar masyarakat yang berada di kawasan sumbu filosofis tersebut mudah untuk mengakses internet. Guna kepentingan tersebut pihaknya akan menggandeng provider yang bersedia melakukan kerjasama. Selain dengan wifi, pihaknya juga akan memasang kamera tersembunyi alias CCTV di sepanjang kawasan tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo mengatakan, pemerintah DIY akan mencoba mengembalikan filosifi tersebut. Saat ini, pemerintah DIY tengah melakukan kajian terkait dengan rencana tersebut. Kajian tersebut meliputi konsep dan juga revitalisasi kawasan. Pihaknya berupaya keras menggali sisi sejarah termasuk bagaimana penamaan kampung-kampung yang berada di sekitar kawasan ini. Karena masih tahap pengkajian dan juga mengumpulkan informasi sejarah, maka ia mengakui jika revitalisasi tersebut belum pasti kapan akan dilaksanakan. Terlebih nanti sesuai dengan arahan Gubernur DIY, revitalisasi tersebut tidak sekedar bangunan fisik tetapi juga dari sisi nilai budaya.

“Ciri khas Ngayogyakarto Hadiningrat akan semakin terlihat,”tambahnya. Kini, perlahan-lahan pihaknya juga akan mengembalikan atmosfir sumbu filosofi tersebut. Pihaknya akan berupaya mengembalikannya dengan vegetasi yang memiliki arti khusus untuk mendukungnya. Rencananya, pohon yang akan ditanam adalah pohon Gayam dan Pohon Asem.

Pohon Gayam dipilih karena memiliki makna Ayom alias mengayomi seluruh rakyat Yogyakarta. Sementara pohon Asem juga dibidik karena memiliki makna sengsem alias senyum atau menyimbolkan kebahagiaan dan keramahan warga DIY terhadap siapa saja.

“Makna jika pohon ini tumbuh di kawasan sumbu filosofis akan menjadi rasa terayomi dan senang,”terangnya.

Dari sisi budaya, revitalisasi nanti juga akan dilakukan. Artinya dari sisi pengerjaan tersebut juga ada perubahan dan pendidikan perilaku masyarakat sekitar. Di antaranya adalah kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya atau tidak merokok di sembarang tempat. (erf)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top